Guruku Inspirasi
Cita-citaku
Bagi
sebagian besar orang mendengar kata matematika yang mereka pikirkan adalah
kumpulan angka-angka, aljabar, trigonometri, limit, aljabar, dan sebagainya.
Memikirkannya saja sudah membuat pusing apalagi melihat soal-soal matematika. Menurut
Penelitian Nawangsari (2001) Matematika sejak dulu memang dianggap oleh siswa
sebagai pelajaran yang sulit dan menakutkan. Menurut Masykur dan Abdul (2007)
Matematika masih dianggap sebagai momok yang menakutkan oleh sebagian besar
siswa dan siswi di sekolah. Wimbarti (2012) mengatakan berdasarkan data UNESCO,
mutu pendidikan Matematika di Indonesia berada pada peringkat 34 dari 38
negara, data lain yang menunjukkan rendahnya prestasi Matematika siswa
Indonesia dapat dilihat dari hasil survei Pusat Statistik Internasional untuk
Pendidikan (National Center for Education
in Statistics) terhadap 41 negara dalam pembelajaran Matematika, Indonesia
mendapatkan peringkat 39 di bawah Thailand dan Uruguay.
Walaupun
matematika termasuk pelajaran yang sulit, ini tidak menyurutkan semangat
belajar bagi guru matematika dan pelajar itu sendiri. Ada seorang guru
matematika yang berasal dari sekolah Aliyah di Kota Bandung, beliau sosok yang
sangat sabar dalam mengajarkan matematika, namun ketika sudah marah tidak ada
yang menandingi lagi, bahkan banyak guru-guru lain yang mengatakan “jangan sampe membuat Pak Edi marah, kalian
bakalan tahu sendiri akibatnya”.
Pak
Edi Suwandi namanya, beliau telah lama menjadi guru di sekolah Aliyah di Kota Bandung dan sekaligus pernah menjadi
salah satu dosen di Universitas terkemuka di Kota Bandung. Salah satu mahasiswa
nya kini pernah mendapat gelar sebagai wisuda terbaik di salah satu Universitas
di Bandung, dan kini menjadi pengajar juga di sekolah yang sama dengan dosennya
dulu.Tak hanya itu saja Pak Edi juga telah memiliki 3 anak, dan semua anaknya
itu telah menjadi dokter pada saat ini.
Sejauh
ini belum ada yang spesial memang mengenai Pak Edi, namun yang membuat istimewa
nya adalah beliau kini tinggal di Cianjur, namun mengajar di Bandung. Padahal
jarak tempuh Cianjur-Bandung itu sekitar 65Km, perjalanan tersebut bisa memakan
waktu 2-3 jam itupun misalkan lancar, namun apabila terkena macet atau
gangguan-ganguan yang tak terduga.
Sudah
puluhan tahun beliau mengajar di Bandung, dan kendaraan yang dipakai bukan
mobil atau motor seperti guru yang lainnya, namun kendaraan umum. Setiap hari
berangkat dari rumah sebelum subuh sampai di sekolah pukul 06.00, belum pernah
sekalipun datang lebih dari jam 07.00. Kedisiplinan beliau lah yang membuat
siswa nya malu untuk datang terlambat. Pendidikan yang diberikan bukan lewat
ucapan, namun lewat perbuatan.
Ketika
tahun 2015 beliau pernah menjabat sebagai pengurus asrama di sekolah, di sana
beliau memberikan pelajaran tambahan tentang matematika untuk kelas 10, 11 dan
12. Ketika itu yang biasanya setiap sore pulang ke rumah, semenjak menjadi
pengurus asrama beliau pulang hanya di hari Sabtu dan Minggu.
Dalam
memberikan materi, beliau tidak hanya asal memberikan rumus, namun para siswa
nya diajak untuk memahami rumus dari asal-usul rumus itu sendiri. Bagi yang
menyukai matematika mereka sangat senang ketika tahu bahwa
(phi)
itu bukan hanya 3,14 tetapi 3,14159265358979323846. Cara penyampaian materi
yang santai namun tetap serius dapat membuka presepsi setiap siswa bahwa
matematika itu sulit. Ternyata ada beberapa diantara siswa nya yang awalnya
tidak mengerti matematika sama sekali, namun ketika diajarkan oleh beliau,
mereka dapat langsung mengerti bahkan materi yang sulit seperti integral,
trigonometri, limit, dan lain sebagainya.
Berkat
beliau lah banyak siswa yang menyukai matematika dan membuat mereka percaya
diri akan kemampuan diri masing-masing. Bahkan banyak ketika mengikuti seleksi
undangan atau SNMPTN untuk melanjutkan ke pergruan tinggi, mereka telah
diterima di ITB, UGM, UNDIP, UPI dan universitas yang bergengsi lainnya. Bagi
siswa kelas 12 catatan dari Pak Edi itu harta menuju universitas, satu hari
saja meninggalkan pelajaran, bingung nya akan terasa sampai 3 kali pertemuan.
Dan itu sangat rugi sekali ketika tidak masuk.
Sekali
lagi karena ketulusan hati beliau yang rela bolak-balik Cianjur-Bandung,
mengajar tanpa lelah, kepribadiannya sangat patut ditiru, beliau lah yang
menjadi inspirasi penulis untuk menjadi seorang guru. Memang tak banyak bicara
kecuali ketika mengajar, namun tindakan-tindakan nya merupakan teladan bagi
semua orang. Beliau juga selalu mengajarkan untuk selalu sabar dan tawakal
dalam segala hal apapun. Seperti mencari jawaban dari matematika, ketika tidak
sabar dan tawakal maka jawaban tidak akan ditemukan. Sabar dan tawakal inilah
yang membuat beliau seperti sekarang ini, menjadi inspirasi dan menjadi
motivasi untuk semua orang.
Mungkin
satu atau dua tahun lagi beliau akan pensiun, walaupun begitu penulis berharap
ilmu yang telah diberikan akan selalu bermanfaat, dan semoga tetap menjadi penerang bagi
orang-orang yang gelap akan matematika. Penulis juga berharap semoga beliau
tetap menjadi inspirasi bagi penulis dan orang lain.
Biodata Penulis
Nama saya Khoirunnisa, dilahirkan di
Kota Indramayu pada 7 Mei 1999. Sejak kecil saya memang menyukai bahasa asing,
terutama bahasa Inggris. Ketika di SD dan SMP saya dikenal sebagai siswa yang
pendiam, namun ketika memasuki Aliyah, saya mulai belajar bersosialisasi dengan
teman sekelas, teman yang berbeda kelas, bahkan kaka kelas.
Ketka di Aliyah, saya mengikuti
ekstrakulikuler English Club dan
pernah menjadi peserta lomba pidato bahasa Inggris yang dilaksanakan oleh
AMINEF (American Indonesian Exchange Foudation) yang diselenggarakan di
Madrasah Aliyah Kota Bandung. Sekarang saya sedang berkuliah di STKIP NU
Indramayu sejak tahun 2017. Cita-cita saya menjadi seorang guru yang
profesional, berakhlak mulia, serta menjadi bermanfaat bagi semua orang."Karya dari Khoirunnisa ini mendapat Juara 1 dalam lomba menulis esai yang di adakan HIMASDA STKIP Nahdlatul Ulama Indramayu"
Terimakasih Kunjunganya....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar